Pentingnya Literasi dan Edukasi Keuangan Sejak Usia Dini

13

 

MEDAN, Lapan6tv | Pendidikan keuangan dan literasi keuangan sebaiknya harus diberikan sejak masa kanak kanak. Sebaiknya, itu diberikan sejak dini mulai dari usia pra sekolah. Anak-anak juga mulai dilatih untuk tidak bersifat konsumtif dan mengutamakan menabung demi masa depan yang lebih baik.

Tujuannya agar sejak kecil anak-anak mampu mengambil keputusan yang tepat untuk menggunakan uangnya dengan tidak semata-mata digunakan untuk jajan.

Hal tersebut disampaikan dua dosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Dr. Leylia Khairani, M.Si dan Delyana Rahmawany Pulungan, S.E, M.Si, di hadapan para siswa SD Negeri di Desa Pisang Pala, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, pada saat para dosen itu melakukan pengabdian kepada masyarakat belum lama ini.

Pengabdian kepada masyarakat ini merupakan upaya perguruan tinggi dalam mendukung program Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bank Indonesia (BI) dan pemerintah dalam mensosialisasikan “Literasi Keuangan” dan “inklusi Keuangan” melalui “Edukasi Keuangan bagi Anak”.

Anggota tim pengabdian kepada masyarakat bersama sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) ini melakukan rangkaian pengabdian dengan sasaran para pelajar sekolah dasar di Desa Pisang Pala di Kabupaten Deli Serdang.

Hasil pengamatan tim Pengabdian Masyarakat UMSU ini diketahui bahwa ternyata anak-anak SD ini memiliki uang saku yang cukup banyak, yakni Rp.10.000 hingga Rp. 20.000 setiap hari. Jumlah uang jajan untuk ukuran anak sekolah dasar itu dinilai cukup besar.

Menurut Delyana R Pulungan, dosen Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UMSU ini, pendidikan keuangan saat ini dinilai sangat penting bagi seseorang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya tentang bagaimana sesungguhnya pengelolaan keuangan pribadi secara bijaksana.

“Pendidikan itu nantinya mampu melahirkan keputusan agar seseorang itu menggunakan uang sesuai dengan kebutuhan bukan karena keinginannya,” ujar Delyana.

BERITA TERKAIT  Zat Kimia Petambang Emas Tradisional Berdampak pada Kesehatan, 6 Kelahiran Abnormal

Keluarga, lanjut Delyana, sebagai kelompok pertama dalam masyarakat diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola uang dengan baik.

Orang tua menjadi contoh teladan yang bisa melatih dan menanamkan kebiasaan kepada anak-anak untuk mengutamakan tabungan dalam menggunakan uangnya.

Konsumtif

Dari hasil pengamatan dan wawancara tim pengabdian masyarakat di Desa Pisang Pala, ternyata diketahui bahwa para pelajar sekolah dasar di desa itu telah menggunakan uang itu seluruhnya untuk keperluan jajan.

“Kalau merasa kurang uang jajan mereka, maka orang tua menjadi sasaran untuk tempat meminta tambahan uang jajan anak-anak sekolah mereka,”ujar Dr.Leyla Khairani, M.Si, anggota tim pengabdian masyarakat lainnya.

Pada sisi lain, tambah Leyla, para orang tua pelajar SD terungkap bahwa mereka mengaku tidak pernah merasa mengedukasi anak-anak mereka untuk mengutamakan menabung uang anak-anak mereka dibandingkan untuk keperjuan jajan semata.

“Dari hasil pre test tingkat literasi keuangan anak-anak sangat rendah yaitu 8% saja. Anak-anak SD di Desa Pisang Pala tidak memiliki tabungan yang produktif. Bahkan orang tua mereka juga tidak semuanya memiliki tabungan yang produktif. Salah satu sebabnya adalah orang tua menganggap masih sangat tabu jika anak-anak mereka diajak diskusi serius tentang uang,” jelas Leyla yang juga dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UMSU ini.

Menurut doktor Ilmu Sosial dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini, dari hasil edukasi yang dilakukan tim pengabdian kepada masyarakat UMSU ini akhirnya diarahkan agar anak-anak diajak SD di Desa Pisang Pala ini membuat tabungan sendiri (celengan) sesuai dengan keinginan dan seleranya masing-masing.

“Anak-anak SD itu diarahkan untuk mengisi celengannya sendiri, menanamkan tanggung jawab untuk celengannya sendiri sehingga anak-anak juga menjadi mandiri, tidak terlalu menggantungkan semua kebutuhannya atau keinginannya dengan meminta kepada orang tua,” tutur Leyla.

BERITA TERKAIT  Budayawan; Pejabat Dinas Kebudayaan Tidak Paham Seni-Budaya

Kegiatan ini berjalan lancar, seluruh anak-anak sangat senang dan antusias untuk membuat celengannya dan mengisinya rutin. Hal ini terlihat dari awal kegiatan KKN hingga berakhir berdasarkan pantauan mahasiswa KKN, bahwa anak-anak terus mengisi celengannya. Orang tua juga sangat mendukung kegiatan ini bahkan ikut mendorong anak-anaknya untuk menabung.

Hasil post test juga memperlihatkan hasil yang baik bahwa tingkat literasi keuangan anak-anak cukup baik peningkatannya menjadi 15%. Meskipun masih belum masuk dalam kategori well literate.

Namun tetap ada perbaikan pada tingkat pengetahuan dan keterampilan anak tentang menggunakan uangnya dengan mengutamakan menabung dibandingkan untuk jajan.(Res)